Rabu, 01 Desember 2010

Menumpuk Logistik Bencana


Masih soal bencana. Ada hal yang cukup identik dengan bencana, yaitu bantuan. Ketika bencana terjadi, banyak pihak yang terketuk pintu hatinya untuk mengulurkan bantuan, baik dalam bentuk uang, barang maupun tenaga. Di satu sisi, hal tersebut tentunya merupakan cerminan rasa  kemanusiaan yang luar biasa, namun di sisi lain, apabila bantuan ini tidak terkoordinasi dengan baik, justru akan menimbulkan masalah baru.

Masalah baru yang bagaimana? Sebut saja bencana tsunami di Aceh beberapa tahun silam, banyak pihak baik dari dalam dan luar negeri mengirimkan bantuan obat- obatan. Bantuan tersebut terlalu banyak dan sayangnya menumpuk, sehingga menjadi mubadzir begitu saja karena keburu kadaluarsa. Apa akibatnya? Pemerintah harus mengeluarkan sejumlah dana yang katanya sampai ratusan juta lebih untuk memusnahkan obat – obatan yang telah kadaluarsa tersebut, sebagaimana yang disampaikan oleh dosen saya, dr. Sulanto Saleh Danu, Sp. FK., dalam kuliah tentang Logistic Management Support.Untuk itu, dibutuhkan suatu bentuk pengolahan bantuan bencana yang baik, tepat guna, dan tepat sasaran.

Istilah logistik sendiri sebenarnya berasal dari istilah militer yang berarti sebuah sistem yang memiliki bagian yang saling berinteraksi dengan efektif satu sama lain untuk memaksimalkan/ mengoptimalisasikan penggunaan sumber daya yang meliputi pengadaan material, pemeliharaan, transportasi material, fasilitas, serta personel. Dalam dunia medis, khusunya dalam konteks emergensi, logistik sangat dibutuhkan dalam reaksi respon bencana, baik dalam tahapan tanggap darurat maupun recovery/ rehabilitasi.

Menurut Pan American World Organization, salah satu cabang regional dari WHO di Amerika, logistik diklasifikan sebagai berikut:
  •          Medicines (Obat – obatan)
  •          Health Supplies/ kit (Peralatan kesehatan)
  •          Water and Environmental Health (kesehatan air dan lingkungan)
  •          Food (makanan)
  •          Logistic administration (administrasi logistik, pencatatan)
  •          Shelter – electrical –construction (tempat tinggal sementara– listrik – bangunan)
  •          Personal needs / edukasi (kebutuhan personal dan edukasi personal)
  •          Human resources (sumber daya manusia)
  •          Agriculture/ livestock (stok pangan)
  •          Unclassified/ others ( lainnya)


Sedangkan yang tergolong dalam logistik medis adalah poin pertama dan kedua yaitu obat – obatan dan peralatan kesehatan.


Pada posting ini, saya ingin lebih jauh membahas mengenai logistik medis, walaupun terlihat hanya terdiri dari dua poin saja, namun ternyata logistik medis ini sangat kompleks dan rumit. Karena banyak faktor yang menpengaruhi penyediaan logistik medis ini, seperti:
  •         Tipe bencana

o   Setiap bencana memiliki karakteristik yang berbeda – beda, misalnya, bencana gempa di Bantul pada tahun 2006, mayoritas korban mengalami patah tulang karena tertimpa bangunan yang roboh, sedangkan pada bencana erupsi merapi, para korban kebanyakan mengalami luka bakar dan juga infeksi pernapasan akut akibat menghirup debu vulkanik yang terlalu banyak. Tipe bencana ini sangat mempengaruhi peralatan dan obat – obatan apa yang nantinya akan dibawa
  •          Jumlah korban/ pengungsi/ populasi

o   Tim yang akan memberikan bantuan juga harus memperhitungkan mengenai jumlah bantuan. Sebagai contoh, cukupkah kalau kita hanya membawa 100 botol infus untuk logistik di tempat pengungsian selama 10 hari dengan jumlah pengungsi sakit 200 orang dan setiap harinya membutuhkan 3 sampai 4 botol infus?
  •          Periode bencana

o   Yang dimaksud periode di sini adalah periode pra bencana, tanggap darurat, dan paska bencana. Setiap fase bencana memiliki kebutuhan yang berbeda – beda pula. Sebagai contoh, saat terjadi bencana gempa Bantul, kebutuhan obat anti tetanus meningkat pesat untuk mencegah terjadinya infeksi pada luka terbuka, namun dua atau tiga bulan setelah bencana, obat anti tetanus ini tidak lagi diperlukan.

Mempersiapkan logistik identik pula dengan berhitung dan menimbang – nimbang. Kita harus dapat memperkirakan setepat mungkin mengenai obat – obatan dan alat medis apa yang akan digunakan, termasuk jumlahnya, sehingga jangan sampai terjadi kelebihan maupun kekurangan yang terlalu significant.

Lebih dari itu, kemampuan untuk berkoordinasi dengan pihak – pihak lain juga wajib hukumnya. Bayangkan saja, apabila seandainya bencana merapi yang melanda  4 kabupaten (Magelang, Klaten, Boyolali, dan Sleman) di Jateng dan DIY itu menerima bantuan dari dinas kesehatan seluruh Indonesia pada waktu yang bersamaan, bagaimana jadinya?

Oleh karena itu, dibutuhkan langkah – langkah untuk dalam manajemen logistik sebagai berikut:

  • Perencanaan dan seleksi
    • Setiap tindakan perlu didahului dengan adanya perancanaan. Setelah didapat informasi tipe, periode, serta jumlah korban/ pengungsi perlu dilakukan perencanaan lebih lanjut mengenai obat – obatan atau alat medis apa yang penting dibawa. Tidak semua alat dan obat dibawa, perlu dilakukan seleksi yang tepat.
  • Pengadaan dan penyediaan
    • Setelah diketahui jumlah perkiraan obat dan peralatan medis, selanjutnya dipikirkan mengenai sumber pengadaan dan penyediaan alat – alat tersebut. Apakah berasal dari pemerintah, LSM, donatur, ataukah ketiganya.
  • Penerimaan, Penyimpanan, dan Pendistribusian
    • Untuk ketiga proses dalam langkah ini, dibutuhkan unsur – unsur operasional lain seperti gudang untuk menyimpan logistik, kemudian juga transportasi yang cukup untuk pendistribusian ke tempat bencana. Perlu dipikirkan pula mengenai waktu perjalanan ke tempat bencana dari gudang penyimpanan, jangan sampai bantuan yang hendak dikirimkan justru datang terlambat.
  • Penggunaan, Pencatatan, dan Pelaporan
    • Ketika bantuan telah sampai, harus diawasi bagaimana penggunaanya. Harus ada pula tenaga medis yang mampu menggunakan bantuan tersebut secara optimal.  Selain itu diperlukan pula adanya pencatatan dan pelaporan, hal ini digunakan untuk menentukan ordering point atau titik pemesanan, yang apabila stok obat dan alat kesehatan telah habis atau tidak memadai, perlu adanya pelaporan untuk mendatangkan stok yang baru.
Keempat langkah di atas berjalan seperti siklus, ketika diperlukan untuk mengadakan stok tambahan, maka pihak yang terkait kembali melakukan perancanaan dan seleksi kembali, begitu seterusnya.

Saya kembali teringat akan cerita dari seorang kerabat yang menjadi relawan. Beliau sempat merasa kecewa dengan bantuan yang diberikan secara sukarela oleh masyarakat. Bantuan sukarela tersebut berupa pakaian bekas, namun sayangnya bukan pakaian bekas yang pantas pakai, namun lebih pantas disebut sebagai pakaian buangan. Yang membuat sedih, pakaian ‘buangan’ yang sudah tidak pantas pakai itu banyak jumlahnya, sehingga para relawan sendiri pun kebingungan bagaimana harus menyimpannya.


Ternyata, masalah yang dialami oleh kerabat saya itu masih sering terjadi, tidak hanya dalam bentuk pakaian, terkadang makanan dan obat – obatan yang disumbangkanpun akhirnya menjadi kadaluarsa dan tidak terpakai.

Oleh karena itu, Humanitarian Supply Management System (SUMA), mengklasifikasikan barang – barang bantuan logistik tersebut berdasarkan prioritasnya sebagai berikut:

  • Urgent – For Immediate Distribution
    • Logistik ini perlu segera didistribusikan ke lokasi bencana, biasanya barang dalam klasifikasi ini diberi label berwarna merah.
  • Non Urgent Distribution
    • Logistik ini tidak harus didistribusikan dengan segera, tapi mungkin dapat bergunan nanti pada fase yang lain seperti pada fase recovery atau rekonstruksi. Biasanya dilabel dengan warna biru
  • Non Priority Articles
    • Merupakan supply logistik yang telah kadaluarsa atau rusak dan tidak dapat digunakan lagi. Barang barang seperti ini dilabel dengan warna hitam.
Ternyata, adanya bantuan yang banyak tapi tidak tepat guna justru menimbulkan masalah baru. Oleh karena itu, proses pengadaan logistik ini perlu perencanaan dan koordinasi yang tepat dari pihak – pihak terkait. Mungkin, sumbangan berupa uang lebih baik daripada barang, asalkan dikelola dengan benar oleh pihak – pihak yang bertanggung jawab.

Sumber:
  • Lecture notes Logistic Management Support. dr. Sulanto Saleh Danu Sp.FK
  • Pan American Health Organization (PAHO) 2001: Humanitarian Suppply Management and Logistic in the Health Sector, PAHO – WHO
  • Humanitarian supply management system. http://www.disaster-info.net/SUMA/english/WhatisSUMA.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar